Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis, terutama dalam 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yaitu dari masa kehamilan hingga anak berusia 2 tahun. Pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara instan, melainkan memerlukan upaya komprehensif yang dimulai sejak masa kehamilan dan terus berlanjut hingga anak beranjak dewasa. Berikut adalah langkah-langkah pencegahan stunting di setiap fase kehidupan:
1. Masa Kehamilan: Pondasi Awal Kehidupan Kesehatan dan status gizi ibu saat hamil sangat menentukan pertumbuhan janin.
- Penuhi Kebutuhan Gizi: Ibu hamil harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan porsi yang lebih banyak, terutama makanan kaya protein hewani (ikan, telur, daging, susu) serta zat besi, asam folat, dan kalsium untuk mendukung pertumbuhan janin.
- Rutin Periksa Kehamilan: Lakukan pemeriksaan kehamilan (Antenatal Care/ANC) secara teratur minimal 6 kali selama kehamilan untuk memantau kesehatan ibu dan pertumbuhan janin, serta mendeteksi masalah sedini mungkin.
- Konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD): Ibu hamil wajib mengonsumsi TTD minimal 90 tablet selama masa kehamilan untuk mencegah anemia, yang dapat menyebabkan bayi lahir dengan berat badan rendah (BBLR) dan berisiko stunting.
2. Masa Bayi (0-6 Bulan): Nutrisi Terbaik dari ASI
- Inisiasi Menyusu Dini (IMD): Segera setelah lahir, lakukan IMD agar bayi mendapatkan kolostrum, ASI pertama yang kaya akan antibodi untuk kekebalan tubuh.
- ASI Eksklusif: Berikan hanya ASI saja selama 6 bulan pertama kehidupan tanpa tambahan makanan atau minuman lain, termasuk air putih. ASI mengandung semua nutrisi yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembang optimal dan melindunginya dari infeksi.
3. Masa Balita (6-24 Bulan): Periode Kritis MPASI Memasuki usia 6 bulan, kebutuhan gizi bayi meningkat dan tidak dapat dipenuhi oleh ASI saja.
- Pemberian MPASI yang Tepat: Mulai berikan Makanan Pendamping ASI (MPASI) pada usia 6 bulan. Pastikan MPASI memenuhi syarat: tepat waktu, adekuat (cukup energi, protein, dan mikronutrien), aman dan higienis, serta diberikan dengan cara yang responsif.
- Prioritaskan Protein Hewani: Protein hewani (ikan, telur, daging, ayam) mengandung asam amino esensial yang sangat penting untuk pertumbuhan linier (tinggi badan) dan perkembangan otak anak. Sajikan sumber protein hewani setiap kali makan.
- Teruskan ASI: Lanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia 2 tahun atau lebih.
4. Menjaga Kesehatan Lingkungan dan Akses Layanan Kesehatan Lingkungan yang tidak sehat dapat menyebabkan anak sering sakit (misalnya diare atau kecacingan), yang akan mengganggu penyerapan zat gizi.
- Sanitasi dan Kebersihan: Pastikan ketersediaan air bersih, gunakan jamban sehat, dan biasakan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir pada waktu-waktu kritis.
- Imunisasi Dasar Lengkap: Bawa anak ke Posyandu atau fasilitas kesehatan untuk mendapatkan imunisasi dasar lengkap sesuai jadwal agar terlindung dari penyakit berbahaya.
- Pantau Tumbuh Kembang: Rutin timbang berat badan, ukur tinggi badan, dan pantau perkembangan anak di Posyandu setiap bulan untuk mendeteksi gangguan pertumbuhan secara dini.
5. Masa Remaja Putri: Mempersiapkan Calon Ibu Sehat Pencegahan stunting juga melibatkan persiapan kesehatan calon ibu di masa depan.
- Cegah Anemia pada Remaja Putri: Remaja putri yang sudah menstruasi rentan mengalami anemia. Dianjurkan untuk mengonsumsi makanan kaya zat besi dan minum Tablet Tambah Darah (TTD) secara rutin (biasanya satu tablet setiap minggu) untuk mencegah anemia dan mempersiapkan cadangan zat besi sebelum masa kehamilan nanti.
- Pencegahan stunting adalah investasi jangka panjang. Dengan memastikan pemenuhan gizi dan kesehatan di setiap tahapan kehidupan, dari kandungan hingga dewasa, kita dapat memutuskan mata rantai stunting dan menciptakan generasi penerus yang sehat, cerdas, dan berkualitas.
SUMBER : https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/penyakit-pada-anak/cara-pencegahan-stunting/